Cerita Tentang Klien

Drafter.

Itulah profesiku saat ini. Sebagai pemain baru di dunia teknik tentunya bukan hal mudah untuk mencari orang yang mau memercayakan desain huniannya pada pemain baru macam aku. Dibutuhkan banyak skill diluar mata kuliah untuk bisa membuat klien puas.

Ini cerita tentang salah satu klien baru yang aku dapatkan dari relasi ortuku. Kisaran bulan September 2014, aku mulai mengerjakan desain huniannya. Klien ku ini (sebut saja Mas Ary) berprofesi sebagai marketing di sebuah developer di Surabaya. TIdak butuh waktu lama, kami bertemu di Taman Bungkul, Surabaya.

Soal gambaran rumah yang dia inginkan, dia menunjuk desain salah satu rumah di tempat dia bekerja. Sebuah rumah bertipe sedang dia tunjukkan padaku. Dia ingin rumahnya nanti berwujud sama seperti desain tersebut. Proses desain pun akhirnya aku mulai. Mulailah aku kembangkan (lebih tepatnya ‘sederhanakan’) desain yang ia kenalkan padaku. HIngga semuanya rampung dalam satu minggu.

Seminggu kemudian kami bertemu untuk membicarakan hasil yang aku kerjakan. Semua file sudah aku susun rapi dalam map plastik berukuran A4. Disitu terisi beberapa gambar tampak depan dan gambar kerja untuk perijinan mendirikan bangunan. Aku sangat percaya diri untuk menunjukkan hasil desain yang aku kerjakan seminggu belakangan. Dengan semangat aku menuju ke rumah klien baruku yang berjarak satu jam perjalanan dari tempat kerjaku.

Gambar awal yang diperhatikan klienku adalah denah ruangnya. Klienku sedikit khawatir soal perencanaan ruangnya. Pasalnya luas tanah yang dia punya tergolong sempit, ukuran 5×20 m. Sejenak dia merasa ruang-ruang yang terbentuk cukup memuaskan. Namun masalah kemudian muncul, betapa kagetnya Mas Ary ketika desain fasad (muka/bagian depan bangunan) aku tunjukkan. Dengan wajah berkerut dia menanyakan pertanyaan yang berbau revisi (hal yang dibenci para drafter, hehe),

Mas Ary : “Kok gitu ya mas?, kok ga kayak yang aku kasih kemarin?”

Aku        : “Maksudnya mas?” (*dengan wajah lugu)

Mas Ary : “Ya aku maunya tampak depan yang kayak di foto kemarin mas, kalau kayak gini ga cocok buat aku mas!”

Seketika itu juga suasana mendadak hening. Dalam hati ak bertanya, Apa yang salah dengan desain ini?. Diskusi pun akhirnya terjadi. Rupanya klien lebih suka dengan desain yang ditawarkan pengembang. Perdebatan terjadi soal fasad  hunian. Hingga pada satu titik klien berkata bahwa dia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang denah dan sirkulasi ruang yang aku paparkan. Dia suka dengan denah yang aku sajikan. Namun dia tetap bersikukuh untuk memakai desain fasad milik sang pengembang. Akhirnya akupun dengan berat hati setuju untuk merevisi desain fasad rumah tersebut

Dalam perjalanan pulang kerumah, aku memikirkan banyak hal tentang pertemuan yang baru saja aku lakukan. Tentang idealisme drafter pemula, tentang desain yang terbuang, tentang wacana sang klien, hingga tentang caraku ‘mengkomunikasikan’ desain yang aku buat. Dari sini, aku belajar sesuatu yang mungkin tidak begitu ditekankan di bangku strata satu. Idealisme soal desain tidak bisa serta merta ditanamkan pada klien. Klien pada dasarnya juga punya keinginan soal bagaimana rumah mereka terlihat nantinya. Jenis furniture apa yang akan mereka pasang dan semua yang terkait dengan rumah impian mereka. Semuanya sudah terpatri dalam pikiran klien.

Lantas apa tugasku sebagai konsultan desain dia?. Yang bisa aku simpulkan dari peristiwa tadi, mungkin tugas terpenting dari arsitek adalah memberikan solusi bagi klien. Membantu klien untuk mewujudkan rumah idaman mereka dengan beragam pertimbangan dari sisi arsitektur (nilai guna, struktur dan estetika). Bukan memaksa klien untuk menyukai desain yang aku buat, menyetujui mentah-mentah apa yang aku pesentasikan didepannya.

Dari peristiwa itu aku mulai mengerti bahwa semua profesi itu ada untuk saling melengkapi dan memberi solusi. Seorang bankir dengan nasabahnya, pedagang dengan pelanggannya, pun juga arsitek dengan pemilik rumah. Semua ada untuk saling memberi solusi. Bukan saling memaksakan ego masing-masing.

Ya.. Begitulah klien dengan keunikannya masing-masing. 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Tentang Klien

  1. been there situation.
    malah sudah pernah dibikinin relatif sama, tapi tetap saja maunya sama persis dengan salah satu brosur yang ia lihat. padahal di brosur itu rumah lebarnya 8 m sementara lahan dia lebarnya 6 m. harus pinter2 ngejelasin kalau desain jadi kelihatan langsing..

    1. Wah kasus kita sama mbak/bu.. Minta persis sama brosur, padahal lebar rumahnya cuma 5 m aja.. hehe..
      Natur nuwun sudah berkunjung. Salam kenal ya mbak/bu..

  2. gak beda ketika saya bikin web atau applikasi untuk client mas,,pasti ada pertanyaan ini “kok gitu ya mas”..:D salam kenal mas adiy #blogwalking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s