Balada Seorang Drafter | Flashback Singkat Malam Hari

Gambar menumpuk, ide yang terbelenggu, dan deadline yang semakin menggila. Ini mungkin sedikit banyak menggambarkan kehidupan drafter ataupun arsitek muda masa kini (termasuk aku). Pembangunan yang terus melaju menuntut para pelaku konstruksi bergerak cepat dan (seolah) tanpa batas. Dan gilanya, ini berlangsung hampir tiap hari dalam seminggu. Fiuuh..

Ambil contoh apa yang aku alami belakangan ini di tempatku bekerja. Tuntutan owner (lebih tepatnya penyewa gedung owner) menyebabkan semua berjalan seakan tanpa masa jeda. Dari desain yang turut berubah hingga sub-kontraktor yang harus bekerja tak kenal waktu. Semua hal dituntut untuk serba cepat dan serba perfect. Alhasil, perjuangan tanpa weekend pun harus dilakukan agar deadline bisa terkejar.

Sama halnya dengan kerjaan pribadiku di rumah. Sebagai drafter pemula, aku cukup rajin untuk mencari saweran di luar jam kerja kantorku. Saat permintaan desain sedang baik, aku hampir ta mengenal weekend ataupun tanggal merah. Semua hari terasa seperti hari Senin di waktu itu :D.

Syukurnya, pekerja gambar sepertiku saat ini sudah banyak sekali dimudahkan oleh teknologi yang ada. Katakan saja macam AutoCAD, Sketch Up, 3Ds Max, dan software drafting lainnya yang beredar dipasaran. Hal-hal tentang revisi dan perubahan bukan lagi menjadi rintangan yang menyulitkan bagi kami, para drafter. Oke, memang revisi dan perubahan gambar itu menyebalkan. Tapi kita (para drafter) semua sudah jauh lebih dimudahkan dengan bantuan perangkat lunak diatas.

Sebuah perbincangan dengan atasan di tempat kerja membuatku lebih membuka mata terhadap betapa sulitnya profesi sebagai drafter ataupun arsitek pada masa sebelum ini. Mari pergi ke masa 90 an, ketika semua gambar kerja dikerjakan dengan tangan, bukan mouse. Apa yang terjadi ketika revisi datang ?. Yap, mari membuat salinan gambar dan ikhlas membuat (ulang) lagi gambar yang kurang tepat. Ketika semua gambar tiga matra digambar dengan tangan (baca; manual), saat itu pula kita dituntut untuk benar-benar teliti mewarnai fasad yang kira rancang, tidak berhenti disitu, sang drafter juga harus jeli menempatkan gelap terang bayangan yang timbul. Lantas ketika revisi ? Mungkin ikhlas merupakan langkah yang tepat untuk membantu menggambar ulang πŸ˜›

Beberapa majalah arsitektur tahun 90 an menjelaskan padaku betapa rumitnya gambar-gambar harus disajikan. Majalah seperti Asri dan Laras memunculkan beberapa gambar sketsa tangan dari bengun-bangun yang sedang mereka jelaskan. Tampil dengan goresan pensil, tinta, ataupun cat warna, semua gambar konsep yang ada merupakan perwujudan dari keterampilan tangan tingkat tinggi dari para arsitek waktu itu.

Semua hal itu membuatku amat sangat bersyukur lahir dan menempuh pendidikan di jaman ini, era milenium baru. Masa dimana percepatan teknologi begitu tinggi. Sehingga kita dimudahkan dengan semua mesin-mesin itu.

Bersyukur merupakan cara termudah untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta

Selesai dengan konsep dan render, kita juga semakin dimudahkan dengan adanya surat elektronik (baca; e-mail). Jika dimasa lampau arsitek harus mengirimkan sendiri dokumen gambar yang telah mereka buat, masa kini kita hanya perlu mengambil smartphone dan mengirimkan ke alamat email ataupun nomor klien. Tanpa perlu mengabiskan banyak waktu, cukup beberapa detik file desain kita sudah sampai ke tangan owner. Pun demikian dengan fee desain kita, cukup sebutkan rekening bank, maka smartphone dimeja kerja sudah siap mengirim berapapun jumlah dana yang diminta. Menakjubkan bukan ? πŸ™‚

Semoga tulisan sederhana ini bisa membuat para drafter, arsitek dan semua profesi lain untuk lebih bersyukur terhadap apa yang sudah ada. Tidak mudah mengeluh kepada nasib dan terus berusaha untuk mendayagunakan teknologi yang ada sebagai media meningkatkan kinerja diri. Terimakasih sudah menyempatkan sedikit waktu untuk membaca tulisan singkat ini. Semoga menginspirasi !

Advertisements

2 thoughts on “Balada Seorang Drafter | Flashback Singkat Malam Hari

  1. Jujur, saya ada rada ga suka sama arsitek. Karena ketika manusia membangun, pasti ada yg terusak. Teknologi makin maju, otomatis pembangunan pun makin cepat, begitu pun alam makin cepat rusak pula.
    Tapi tak mengapa lah, arsitek itu tugas mulia buat manusia.

    1. Itu semua sebenarnya bergantung ke masing2 arsiteknya mas. Pasti banyak arsitek yang hanya membangun rumah tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Tapi banyak juga arsitek yang sangat peduli pada bumi kita ini mas (khususnya arsitek asli Negeri ini). Contoh kayak pak Yori Antar yang beberapa waktu lalu bersama timnya menangani revitalisasi banyak rumah adat di daerah2 mas, dan bangunan yang ada ‘hidup’ harmonis dgn lingkungannya mas.
      Matur nuwun sudah berkunjung ya mas, komennya semakin mengingatkan aku utk jadi arsitek yang semakin memerhatikan lingkungan. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s