Candi Bajang Ratu | Sedikit Cerita

Setelah sebelumnya bercerita tentang perjalanan menuju Trowulan, Gapura Wringin Lawang dan Candi Tikus, sekarang saya melanjutkan cerita di Candi Bajang Ratu. Candi Bajang Ratu atau disebut juga sebagai Gapura Bajang Ratu merupakan salah satu peninggalan Majapahit yang hingga kini masih berdiri kokoh di Trowulan, Mojokerto. Candi ini terletak di desa Temon, kecamatan Trowulan, Mojokerto. Jaraknya kurang lebih 500 meter dari Candi Tikus.

Menurut sejarah, candi ini berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam bangunan suci untuk memperingati meninggalnya raja Jayanegara. diperkirakan dibangun pada abad ke 14, bangunan ini merupakan salah satu gapura (pintu masuk) terbesar pada jaman keemasan Majapahit. Menurut data yang saya ambil dari Wikipedia bangunan ini diduga sebagai pintu pintu belakang kerajaan. Dugaan ini diperkuat dengan adanya relief “Sri Tanjung” dan sayap gapura yang melambangkan pelepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang.

WP_20131226_028
Candi Bajang Ratu nih…
DSCN7259
Dari dekat..
Kombinasi antara bata merah sebagai penyusun utama dan batu andesit sebagai pijakan tangga..
DSCN7261
Sekarang traveler tidak boleh lagi menaiki area dalam candi.. Menutuk sumber yang saya dapat, ini untuk melindungi candi itu sendiri..

Lokasi Candi ini sangat mudah dijangkau oleh para traveler yang ingin berkunjung. Jarak candi dari jalan Mojokerto-Jombang hanya sekitar 4 kilometer saja. Untuk mencapai lokasi Candi Bajang Ratu, traveler harus berkendara sejauh kurang lebih 200 atau 300 meter ke arah selatan, kemudian belok kiri menuju kearah timur di perempatan Dukuh Ngliguk. Dari sini perjalanan dapat ditempuh kurang lebih 5 menit dengan kecepatan sedang.

Traveler yang berkunjung pun cukup banyak, menurut saya malah jauh lebih banyak dibanding dengan Gapura Wringin Lawang. Mungkin saat musim liburan akan banyak pengunjung yang memadati wisata sejarah ini. Selain wisatawan domestik, saya juga menjumpai beberapa wisatawan luar negeri, kalu tidak salah beberapa rombongan dari Tiongkok dan beberapa lagi saya jumpai dari Korea (entah Korea yang utara atau selatan) dan juga dari Jepang. Hmmm… Nampaknya cukup menarik minat wisatawan juga lokasi ini.

Sedikit membahas tentang candi ini. Dari pintu masuk, candi ini sudah terlihat menjulang ditengah hijaunya lansekap. Material bangunan yang terdiri dari bata merah dan batu andesit pada sisi tangga dan beberapa bagian pintu. Hal ini tampak kontras dengan lingkungan sekitar yang terlihat hijau. Seperti halnya Candi Tikus, area candi ini juga mengalami beberapa kali perluasan untuk menunjang area wisata. Saai ini area wisata ini cukup luas, tidak hanya disuguhi oleh bangunan candi, kita juga disuguhkan jalan setapak untuk menikmati taman yang ada disekeliling candi.

DSCN7269
Jalan setapak dari tanah..
DSCN7271
Menikmati candi sambil duduk dibawah pohon..
Disini masyarakat bebas menginjak rumput.. Tapi harus tetap jaga kebersihan yaa…
WP_20131226_024
Jepretan dari pintu masuk
WP_20131226_031
Lansekapnya niih…
WP_20131226_034
Jepretan dari bawah pohon..
Cuacanya panas disini..
:p

Saya sempat berbincang sebentar dengan pengelola candi ini, menurut mereka sebenarnya masih banyak sekali peninggalan bersejarah yang bisa ditemukan diareal wisata ini. Tidak perlu menggali tanah terlalu dalam, biasanya akan langsung ditemukan entah itu peralatan rumah tangga ataupun uang kuno yang dulu dipakai oleh masyarakat Majapahit. Beberapa tahu yang lalu, bapak pengelola pun pernah tidak sengaja menemukan susunan lantai yang terdiri dari batu bata dan beberapa batu andesit yang masih rapi tersusun setelah terkubur sekian lama.

Diluar area candi juga banyak peninggalan sejarah yang bisa ditemukan. Penduduk sekitar (mayoritas berprofesi sebagai pembuat batu bata) sering menemukan benda-benda kuno ketika mereka menggali tanah untuk mebuat batu bata. Sayangnya, kesadaran masyarakat sekitar yang rendah terhadap benda-benda peninggalan sejarah mmbuat mereka apatis terhadap keberadaan benda kuno tersebut. Banyak diantara mereka yang malah menjual benda-benda tersebut dengan murah kepada para kolektor seni yang berdatangan dari berbagai tempat. Sehingga banyak benda bersejarah yang dapat ditemukan namun tidak sempat didokumentasikan oleh pemerintah. Jika terus menerus seperti ini, mungkin akan banyak cerita tentang Majapahit yang hilang karenan kesadaran yang rendah tersebut. Sayang sekali..

Sedikit opini tentang fasilitas penunjang, seperti beberapa candi yang seudah saya kunjungi di Trowulan, fasilitas pendukung yang ada rasanya msih belum cukup jika dibandingkan dengan banyaknya traveler yang berkunjung. Dari segi parkir motor, memang lebih baik dibanding Gapura Wringin Lawang, ada beberapa naungan yang diberikan, selain itu area parkir motor juga diteduhi oleh pohon besar yang ada dilokasi.

DSCN7248
Kolam air didepan kantor pengelola.. Manis..
DSCN7247
Parkir motor yang bersebelahan dengan kantor pengelola.
Di kantor pengelola itu kita diwajibkan untuk mengisi buku tamu..
DSCN7254
Pintu masuknya nih…
DSCN7256
Bagus bukan??
DSCN7263
Bukan hanya kebersihan lingkungan saja yang dijaga, “etika” juga perlu dijaga..
🙂
DSCN7264
Yap, lagi-lagi ada pihak yang berusaha menjadikan tempat ini sebagai spot baru untuk bermesraan..

Untuk toilet, ini nih yang harus dibenahi. Sepertinya jumlahnya masih terlalu sedikit dan terkesan dibangun ala kadarnya. Seharusnya perhatian pemerintah setempat lebih besar terhadap lokasi wisata sejarah ini. Sehingga pembangunan yang dilakukan untuk menunjang kawasan ini menjadi lebih terkonsep. Selain jumlah toilet yang sedikit, saya juga tidak menjumpai adanya musholla ditempat ini. Entah saya yang kurang memperhatikan atau memang tidak ada, saat saya berkunjung tidak banyak juga bangku untuk tempat beristirahat. Kebanyakan para traveler yang berkunjung beristirahat dibawah pohon dengan membawa alas sendiri-sendiri. Yang tampak hanya beberapa akar pohon yang keluar dari dalam tanah atau batang pohon yang sudah kering yang banyak dijadikan oleh pengunjung untuk beristirahat sejenak.

Yap, tentunya untuk kenyamanan semua pihak, fasilitas penunjang untuk setiap tempat wisata mutlak diperlukan. Hal yang patut diapresiasi dari candi-candi yang saya kunjungi di Trowulan adalah tidak ada satupun yang menarik biaya masuk. Kita hanya diarahkan untuk mengisi buku tamu dan memberikan donasi sukarela. Semoga kedepan wisata ini menjadi semakin banyak pengunjung, sehingga peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada disini tidak dilupakan begitu saya oleh generasi muda kelak.

Sekian cerita bersambung saya dari Trowulan, Mojokerto… Next time we’ll visit the other temple in East Java..

Matur nuwun sedoyo… 🙂

Advertisements

One thought on “Candi Bajang Ratu | Sedikit Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s