Candi Tikus | Sedikit Catatan

Okey, kali ini saya melanjutkan tulisan yang sebelumnya.. Masih di kawasan Trowulan, Mojokerto, saya melanjutkan perjalanan ke peninggalan sejarah selanjutnya yaitu Candi Tikus. Lucu bukan namanya? Seperti nama binatang yang tidak semua orang suka. Nama Candi Tikus diberikan karena pada saat penemuan dan penggalian dilakukan, ada banyak sekali sarang tikus di candi ini, tapi jangan kawatir karena saat ini tidak ada satupun tikus atau hewan pengerat lain di lokasi candi ini.

DSCN7235
Tulisan dari tanaman perdu disisi candi..

Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1914 atas laporan dari Bupati Mojokerto saat itu yang bernama R.A.A Kromodjojo Adinegoro. Masa itu ditemukan beberapa miniatur candi disebuah pemakaman rakyat, yang akhirnya dilakukan penggalian hingga seperti yang terlihat saat ini.

DSCN7209
Ini nih candinya.. waktu ditemukan dulu banyak sarang tikusnya..

 

Masa pemerintahan Hindia Belanda, sebelum negeri ini merdeka, candi ini pernah dipugar. Tetapi dinas terkait tidak mendapat laporan rinci tentang apa saja yang telah dipugar oleh pemerintah Hindia Belanda masa itu. Namun, cukup banyak bukti yang dapat dijadikan petunjuk, antara lain pemasangan kembali menara candi induk dengan menggunakan semen dan pembuatan saluran pembuangan disisi selatan mengarah ke barat.

Setelah merdeka, candi ini kembali dipugar oleh Direktoran Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala melalui proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Bekas Kota Kerajaan Majapahit pada tahun 1984/1985 sampai dengan tahun 1988/1989. Pemugaran oleh peerintah ini dilakukan secara bertahap dan dinyatakan selesai pada tanggal 21 September 1989 yang ditandai oleh upacara peresmian yang diadakan oleh Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam perjalanannya hingga kini, pembenahan lingkungan dan perluasan areal tanah dilakukan sehingga halaman candi menjadi semakin luas.

Okey, sudah kenal sejarah candi ini kan? Sekarang kita bahas sedikit tentang susunan candi ini. Candi Tikus terbuat dari bata merah dan dibangun kurang lebih tiga setengah meter dibawah tanah. Luas candi ini kurang lebih 506,25 m2. Pada sisi utara terdapat tangga masuk dengan pipi tangga yang sudah rusak. Diteras pertama ada delapan buah bangunan kecil berbentuk candi. Sedang diteras kedua terdapat candi induk yang dikelilingi delapan buah candi kecil lainnya. Sepanjang pondasi candi ini terdapat semacam hiasan kepala makara dan kuncup bunga padma yang terbuat dari batu kali.Oleh para peneliti sejarah, susunan bangunan seperti ini serupa dengan Gunung Mahameru yang ada di India.

DSCN7229
Dari sebelah utara nih.. ini pintu masuk bangunan Candi Tikus…
DSCN7208
Candi ini bagus… 🙂

Hingga saat ini belum ditemukan adanya sumber tertulis yang menerangkan secara detail tentang apa fungsi candi ini, kapan candi ini dibangun dan siapa yang membangun candi ini. Para ahli sejarah dan arkeologi juga masih banyak yang memperdepatkan tentang fungsi dari candi ini. Sebagian berpendapat bahwa candi ini merupakan pertirtaaan, tempat mandi keluarga raja, ada sebagian juga yang berpendapat bahwa bangunan ini merupakan tempat penyimpanan dan penyaluran air untuk kebutuhan masyarakat Trowulan masa itu. Namun, bentuk menara candi yang seperti meru menimbulkan dugaan baru bahwa candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan pada masa itu. Meru sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti gunung suci yang dalam kosmologi Hindu Buddha dianggap sebagai pusat alam semesta baik secara fisik maupun metafisik.

Yap, itulah sedikit yang bisa saya ceritakan tentang Candi Tikus. Dari jalan memang candi ini tidak tampak seperti candi lainnya, karena letak candi yang lebih rendah dari tempat lain. Terletak tiga setengah meter dibawah tanah. Kita harus masuk dulu ke area candi agar dapat melihat pesona candi ini secara keseluruhan. Yang menarik dari lokasi ini bukan hanya bangunan candinya, tapi juga lingkungan sekeliling candi. Perluasan wilayah telah dilakukan beberapa tahun yang lalu, sehingga wilayah candi ini menjadi semakin luas dan asri.

DSCN7240
Dari sisi utara candi nih.. Hijau bukan?
DSCN7217
Foto ini saya ambil tepat dibawah pohon maja.. yap, buah dari pohon ini adalah asal nama kerajaan Majapahit
DSCN7225
Ini nih pohon maja… Asal buah maja ya dari pohon ini..
🙂

 

Seperti Gapura Wringin Lawang, candi ini juga dikelilingi oleh jalan setapak yang asri dan menyatu dengan lingkungan sekelilingnya. Disebelah kiri dan kanan jalan setapak ada tanaman perdu yang mendampingi. Saya juga menjumpai tanaman perdu yang dibentuk seperti sebuah gerbang. Disisi utara candi terdapat beberapa pohon besar yang diekelilingnya terdapat bangku kecil untuk duduk dan menikmati area ini dengan lebih nyaman.

Sedikit opini pribadi, lokasi Candi Tikus berada pada kondisi cuaca dan tingkat suhu yang sama seperti di Gapura Wringin Lawang. Mungkin akan lebih baik jika pengelola terkait sudi untuk menambah bangku taman yang ada. Selain untuk pelepas lelah, bangku taman ini juga berfungsi untuk menambah kenyamanan pengunjung dalam menikmati situs bersejarah ini. Sebuah ironi, masih banyak bebatuan yang merupakan bagian dari lansekap candi ini yang menjadi korban “kreatifitas salah arah” yang pelakunya adalah muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Hal ini merupakan sebuah fakta yang sangat sering dijumpai di negara ini. Ketika pengelola tempat wisata berusaha untuk menyuguhkan sesuatu tetapi malah banyak kaum muda kita sendiri yang entah itu sengaja ataupun tidak malah merusaknya sedikit demi sedikit.. Memalukan!

DSCN7211
Kasihan batu ini… Menjadi korban “Kreatifitas salah arah” dari muda-mudi yang kasmaran..
DSCN7214
Satu korban lagi nih… 😦

Keberadaan fasilitas umum seperti toilet dan musholla adalah hal lain yang harus diperhatikan. Entah saya yang kurang perhatian atau memang tidak ada, saya tidak menjumpai adanya toilet di lokasi ini. Kalau tidak salah saya hanya menjumpai toilet dibelakang kantor pengelola, namun itu tampaknya hanya ditujukan untuk pengelola tempat ini. Padahal toilet merupakan kebutuhan utama yang harus ada disetiap tempat wisata. Semoga kedepan pihak pengelola lebih memperhatikan fasilitas pendukung semacam ini.

Setelah ini, kita lanjut lagi ya jalan-jalan ke Candi Bajang Ratu. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Candi Tikus | Sedikit Catatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s