Trowulan, Mojokerto | Historical Site

Okey.. Setelah lama warung ini kosong tanpa artikel, akhirnya timbul juga semangat untuk menulis sedikit cerita tentang perjalanan ke kota kelahiran saya, Mojokerto. Aseek.. 🙂 skip

Kali ini perjalanan saya mulai dengan berkumpul di pos pertama di Lidah Wetan Surabaya. Sebelumnya, saya tidak pernah mencoba rute ini. Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dibantu oleh Google Map, perjalanan melalui rute tak dikenal ini menjadi jauh lebih mudah. Perjalanan saya mulai dari jam 7.30 dan tiba dengan lancar di Kota Mojokerto sekitar jam 9.30. Sejenak menikmati suasanan kota yang lengang, kemudian perjalanan saya lanjutkan kembali ke Trowulan yang berjarak kurang lebih empat puluh lima menit dari pusat Kota Mojokerto.

Dari Surabaya, rute yang saya tempuh yaitu melalui jalan Randegansari di Lakarsantri (Surabaya) menuju ke daerah Driyorejo (Gresik). Kemudian menuju ke jalan By Pass Krian, Sidoarjo. Yap, ini perjalan Surabaya-Mojokerto via Gresik dan Sidoarjo, hehe 😀 .

Seperti pagi biasanya, lalu lintas di perempatan by pass Krian dan Legundi selalu ramai cenderung macet. Hal ini disebabkan banyaknya truk besar yang lewat dan kondisi aspal jalan yang memprihatinkan. Tidak banyak lubang, tapi.. ada dua cekungan menerus bekas roda truk-truk besar yang melintas. Sebuah hal yang wajar mengingat daerah Krian (Sidoarjo) dan Driyorejo (Gresik) merupakan kawasan industri yang dijejali oleh bermacam pabrik besar dan dilengkapi oleh kualitas aspal jalan yang buruk.

Sampai di By Pass Krian Sidoarjo, jalanan menjadi lengang, tak banyak truk besar yang lewat. Kiri kanan jalan terlihat kombinasi antara pabrik-pabrik besar dan sawah penduduk yang hijau. Yap, dampak industrialisasi.. Semua lahan kosong nampaknya menjadi santapan nikmat para pemilik modal untuk mengembangkan usaha mereka.

Masuk daerah Balongbendo (masih wilayah Sidoarjo) mulai banyak lagi kendaraan besar yang melintas macam truk dan bus. Jalan ini merupakan jalan utama penghubung Surabaya dan Jogjakarta. Disini para pengendara roda dua harus hati-hati. Selain truk dan bus yang terkadang semaunya sendiri, pengendara motor harus berhati-hati dengan kondisi aspal jalan yang bergelombang.

Lepas dari Balongbendo, terdapat dua rute yang bisa diambil, pertama melalui By Pass Mojokerto (Jalan Antar Provinsi) yang dapat membawa kita langsung menuju Trowulan. Kedua adalah melalui jalan Magersari (melewati pabrik Ajinomoto) yang menuju ke arah Kota Mojokerto. Saya memilih untuk mengambil rute kedua karena jalannya lebih tenang dan tidak banyak kendaran besar yang melintas.

Masuk Kota Mojokerto, tepatnya jalan Gajah Mada, aspal jalan benar-benar mulus.. Tak ada gelombang ataupun tambal sulam aspal. Kiri kanan jalan terlihat bersih tanpa sampah. Masuk jalan Majapahit yang sepertinya mirip dengan kawasan Tunjungan Surabaya di masa lalu, parkir tertata rapi disini. Area parkir disediakan di sisi kiri jalan, baik itu motor ataupun mobil, petugas parkir semuanya berseragam dinas perhubungan, sebuah hal yang patut dicontoh kota-kota lain nih.. Di traffic light, kesadaran masyarakat akan ketertiban lalu lintas jauh lebih baik dibanding di Surabaya (hehehe.. 😛 ). Tidak bermaksud mendiskreditkan, namun mayoritas kendaraan berhenti dibelakang garis zebra cross, berbeda dengan di Surabaya yang rata-rata berhenti jauh didepan zebra cross (termasuk saya sendiri kadang-kadang 😉 ). Yap, salut nih sama kesadaran masyarakat Mojokerto terhadap peraturan lalu lintas.

DSCN7163
Salah satu tempat ibadah di Mojokerto
DSCN7164
Salah satu bangunan kolonial di tengah kota

Kota Mojokerto terletak tidak terlalu jauh dari Surabaya. Kurang lebih 60 km dari Surabaya atau sekitar dua jam perjalanan. Akses jalan yang dilalui juga tidak terlalu sulit, cukup mengikuti Jalan Nasional Surabaya-Jogjakarta. Kota ini dulunya adalah pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, yap, kerajaan terbesar di Indonesia yang wilayahnya lebih luas dari Indonesia yang sekarang. Tak heran, disini banyak sekali peninggalan masa jaya kerajaan Majapahit yang berupa candi, tempat pemujaan, tempat pemandian, hingga peralatan sehari-hari yang dipakai masyarakat Majapahit dulu.

Okey.. skip tentang Mojokerto, kita berangkat ke Trowulan…

DSCN7166
Perjalanan menuju lokasi Gapura Wringin Lawang (salah jalan nih ceritanya 😀 )

Trowulan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kecamatan ini terletak dibagian barat Kabupaten Mojokerto yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Jombang. Disni banyak ditemukan peninggalan Majapahit. Menurut data dari Wikipedia, disini terdapat puluhan situs bersejarah seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh para peneliti sejarah, kawasan ini diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit. Di tempat ini banyak ditemukan peninggalan masa jaya Majapahit. Candi, kolam segaran, tempat rituan, gapura, peralatan makanan merupakan beberapa contoh benda peninggalan Majapahit yang banyak ditemukan di Trowulan. Beberapa candi yang sampai sekarang masih ada diantaranya Candi Wringin Lawang, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Minak Djinggo (hanya tersisa beberapa persen saja), Candi Gentong, Candi Brahu, dan candi-candi kecil lainnya.

Banyak pula peninggalan-peninggalan sejarah lain di lokasi ini yang tidak sengaja ditemukan oleh masyarakat sekitar, misalnya uang koin cina, sisa-sisa peralatan makan dari keramik ataupun dari tanah liat. Namun sayangnya, minimnya pengetahuan tentang peninggalan sejarah membuat mereka yang menemukan barang tersebut malah menjualnya ke pihak ketiga, yap, pihak kolektor seni yang tahu betapa berharganya barang-barang tersebut. Bersyukur masih banyak peninggalan yang mampu dilestarikan oleh pemerintah setempat.

Pada kesempatan kali ini, saya mengunjungi tiga candi di Trowulan yaitu Candi Wringin Lawang, Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu. Okey.. Ini nih potret yang saya ambil di ketiga candi tersebut…

DSCN7171
Ini nih salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Trowulan, Gapura Wringin Lawang..
DSCN7184
Berada ditengah Gapura Wringin Lawang, Gapura yang gedhe beneeer…
DSCN7194
Dari samping, terlihat begitu kokoh, berdiri ditengah taman dan sisa candi lainnya disekelilingnya..
DSCN7186
Gapura yang besar bukan?
DSCN7235
Yap, ini area Candi Tikus….
DSCN7229
Komplek Candi Tikus nih… diduga dulunya adalah tempat menyucikan diri..
DSCN7209
Dikelilingi air, candi ini berada tiga setengah meter dibawah permukaan tanah..
DSCN7211
Kreatifitas yang salah arah.. M I R I S..
Sedikit mengurangi keindahan taman sekeliling Candi Tikus..
DSCN7240
Taman disekeliling Candi Tikus..
Walau cuaca panas tapi tetap asri bukan?
WP_20131226_025
Pindah ke Candi Bajangratu.. Ini nih jalan masuknya…
WP_20131226_028
Ini nih Candi Bajangratu…
DSCN7259
Dari dekat niih… Candi ini tampak megah.. Tingginya mencapai 16,5 meter..
DSCN7271
Tampak dari samping niih… Lokasi candi ini sudah mendapat perluasan…

Advertisements

4 thoughts on “Trowulan, Mojokerto | Historical Site

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s