Arsitektur

Posting pertama saya (atau bisa juga disebut yang kedua,karena tulisan pertama saya dedikasikan untuk wordpress.com, hehe).

Sempat bingung tentang apa yang akan saya tulis, akhirnya saya putuskan untuk menulis hal yang dekat dengan saya sebagai pembuka blog ini. Yup, karena bidang saya adalah arsitektur, dan hampir tiap hari kerjaan saya selalu aja duduk berjam-jam didepan laptop sambil ‘menggambar’. Sampai teman dekatsaya selalu bilang, ” ini anak klo udah didepan laptop pasti ga inget siapa-siapa”. Hehehe.

Tulisan pertama ini berbicara tentang arsitektur. Saya akan mencoba sedikit membahas tentang apa itu arsitektur. Tentang definisinya, tentang pendapat beberapa ahli dalam bidang arsitektur, dan tentunya pendapat saya sendiri 🙂 . Okay, enough talking and Let’s get started.

Apa itu arsitektur? Bagi sebagian orang, arsitektur dapat berarti sebuah bangunan ataupun sebuah gedung tinggi. Bisa sebagai mall, hotel, perkantoran, ruko atau bangunan besar lain semacamnya. Sebenarnya, arsitektur memiliki pengertian yang beragam yang didapat dari berbagai sudut pandang. Mulai dari sudut pandang ilmu pengetahuan, menurut aspek yang bertautan dengan arsitektur, dan bisa juga dari pandangan para tokoh-tokoh yang mempunyai pengaruh besar dalam dunia arsitektur itu sendiri.

Secara etimologis, arsitektur adalah seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, atau bisa juga berarti metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan. Sedangkan menurut ilmu pengetahuan, arsitektur merupakan sebuah seni merancang bangunan yang baik, bangunan yang atraktif, terencana dan terbangun dengan baik, dan keduanya sesuai dan berarti untuk kalangan masyarakat(Ben Farmer: Needs and Means)

Jika dilihat dari aspek material, arsitektur merupakan bagian dari seni yang hasil karyanya bisa dinikmati dengan melihat bagian luar dan dalamnya. Dari luar bisa kita nikmati bagaimana fasad bangunan itu, apa saja yang menjadi pembentuk fasad tersebut, dan bisa juga gaya atau style apa yang dibawakan bangunan tersebut. Sedangkan dari dalam (interior), dapat kita nikmati bagaimana penataan ruangnya, hubungan antar ruang, dan bagaimana alur masing-masing ruangan.

Definisi arsitektur yang baik diberikan oleh arsitek Romawi, Vitruvius, pada abad pertama dalam buku pertamanya yang berjudul “Ten Books on Architecture. Disini ia menjelaskan bahwa arsitektur adalah bangunan yang terdiri dari tiga hal, yaitu ; Utilitas, Firmitas, dan Venustas. Utilitas yang berarti fungsi, firmitas berarti kekuatan atau struktur bangunan, dan venustas yang berarti keindahan atau nilai estetika dari bangunan itu sendiri.

Dari apa yang disampaikan Vitruvius, arsitektur merupakan seni dan ilmu dalam merancang bangunan yang berpijak pada tiga aspek yaitu, utilitas, firmitas, dan venustas.

Bangunan yang baik haruslah memenuhi tiga aspek tersebut, menurut saya ketika sebuah bangunan tidak memenuhi ketiga unsur tersebut maka bisa dikatakan bangunan tersebut bukanlah termasuk arsitektur. Jadi sebuah arsitektur pasti merupakan sebuah bangunan atau dalam arti lebih luas berarti ‘sekumpulan bangunan’, namun sebuah bangunan belum tentu bisa dikatakan sebagai sebuah arsitektur.

Sekarang mari kita ulas ketiga aspek yang telah disebutkan oleh Vitruvius.

Aspek pertama adalah utilitas. Utilitas dapat berarti fungsi atau nilai guna dari sebuah bangunan. Untuk apa bangunan tersebut dibangun, ini juga mencakup ruang apa saja yang dibutuhkan dalam bangunan tersebut. Sehingga bangunan akan mengakomodasi kebutuhan dari pemiliknya. Hal ini juga mencakup bagaimana penataan ruangnya, alur ruangnya, sehingga bangunan tidak menghambat aktifitas pemiliknya.

Aspek kedua adalah firmitas. Firmitas bisa berarti kekuatan dari sebuah bangunan. Bagaimana sistem konstruksi bangunan dirancang dan dibangun sehingga bangunan memiliki kekokohan dan mampu melindungi apa yang ada didalamnya. Disini mencakup segala hal tentang bagaimana menjadikan bangunan itu ‘kuat’. Mulai dari merencanakan pondasi, rencana kolom dan balok, rencana atap, dsb. Semua harus direncanakan dengan baik agar bangunan menjadi kokoh secara struktural.

Aspek yang terakhir adalah venustas. Venustas adalah keindahan dari bangunan, atau bisa juga disebut nilai estetika dari sebuah bangunan. Bagaimana tampak (fasad) bangunan diolah sehingga menjadi sebuah bentuk yang indah dan enak dipandang mata. Apakah itu minimalis, mediteranian, tropis, atau bentuk lain, semua kembali kepada pemilik untuk menentukan seperti apa wujud bangunan yang diinginka.

Dalam ber-arsitektur, ketiga aspek itu harus ada dan harus selalu menjadi pertimbangan. Ketiga aspek itu juga harus saling berkaitan agar bangunan yang diwujudkan menjadi sebuah bangunan yang aman dan nyaman bagi semua orang. Ketika ketiga aspek tersebut tidak saling dipadukan, maka besar kemungkinan bangunan itu akan menjadi tidak sesuai dengan kaidah yang ada.

Contoh yang paling sering dijumpai saat ini adalah banyaknya bangunan yang hanya mempertimbangkan aspek nilai guna dan kekuatan dari bangunan, sedangkan untuk aspek venustas atau tampak (fasad) bangunan sedikit diabaikan. Sehingga dampaknya bangunan tidak akan menjadi harmoni dan mungkin akan terlihat sedikit ‘aneh’ jika ‘dinikmati’ baik dari dalam maupun dari luar.

Yup, ketika bangunan sudah memenuhi syarat untuk disebut sebagai sebuah karya arsitektural, Insya Allah bangunan tersebut akan memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.

Terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s